Orang Rimba, Mencoba Berubah Tapi Belum Diterima

Oleh : Haffuaddi Hatta

Orang Rimba sudah kehilangan wilayah hidup dan penghidupannya, mengembara mencari kawasan yang masih ada hutannya meskipun jauh dari tempat asal mereka. Sebagian mereka Menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sudah berubah dan berkampung. Walaupun Orang Rimba telah berubah dan berkampung, Orang Rimba masih belum diterima secara bulat dalam pergaulan sehari-hari oleh Orang Desa.

Ketika tempat menghindar semakin sempit dan terjepit, mau tidak mau pilihan Orang Rimba adalah berintegrasi dengan kehidupan disekelilingnya. Pilihan ini bukanlah perkara mudah bagi Orang Rimba. Latar budaya yang berbeda dan imej yang terlanjur berkembang, tetap membuat gap yang terlalu dalam dalam pembauran Orang Rimba dengan masyarakat lainnya.

Imej sebagai kubu yang berarti jorok, kotor, penyakitan dan berbau mistis, masih menjadi tertanam kuat di masyarakat melayu. Meskipun Orang Rimba tersebut telah berubah dan berkampung serta meninggalkan kebiasaaan lama seperti tidak mandi dan bercawot. Namun dalam keseharian, mereka tetap diperlakukan seperti manusia kelas dua bahkan kelas lima.

Diceritakan oleh Dedi Orang Rimba dari Kelompok Abraham yang hidup berdampingan dengan warga Transmigrasi E2, Desa Bukit Beringin, Kecamatan Bangko Barat, Kabupaten Merangin. Tampilan Dedi dan anggota kelompok lainnya sudah sangat mirip dengan warga lainnya. Lima KK Orang Rimba dengan 23 jiwa ini, sudah meninggalkan berpakaian ala orang rimba. Pakaian mereka hampir sama dengan warga transmigrasi lainnya. Perubahan ini dilakukan supaya mereka dapat diterima berdampingan dengan warga lainnya. Saling menghargai juga diciptakan diantara mereka. Interaksi sosial mereka juga terjalin dengan baik.

“Setiap ada kegiatan di desa ini kami selalu menghadirinya. Kami ingin membaur dengan masyarakat desa dan kami ingin masyarakat desa menerima kami apa adanya. Kalau diundang pada acara kawinan, sunatan maupun sedekahan kami selalu datang,”tutut Dedi
Hanya saja, meski sudah mencoba membaur Orang Rimba masih tetap dibedakan. Mulai dari tempat duduk, sampai ke piring dan gelas yang mereka gunakan. “Walaupun secara pergaulan sehari-hari kami diterima tapi ada hal-hal yang kami dipisahkan atau dibedakan dengan orang desa sini.”aku Dedi.

Orang Rimbapun pasrah menerima perlakuan ini, bahkan sangat maklum dan tidak menimbulkan dendam. Buktinya mereka tetap saja kembali datang kesuatu hajatan, jika memang diundang dengan tuan rumah, dan perlakuan pembedaan kembali mereka terima.

Hal ini juga berlangsung sebaliknya. Ketika Orang Rimba mengadakan hajatan, orang desa yang ada disekitar merekapun turut diundang. Salah seorang anggota Kelompok Pengundang Leman menuturkan, mereka bergaul dengan Orang Desa tidak hanya datang kehajatan orang desa di Dusun Duo, kawasan Transmigarasi A.3, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin. “Kami juga selalu mengundang orang desa untuk datang dalam kegiatan kami. Kami selalu mengundang orang desa jika kami ada hajatan perkawinan dan selamatan,”katanya Orang Rimba yang memang sudah fasih berbahasa melayu.

Kendati demikian, untuk urusan konsumsi yang akan dihidangkan ke orang desa, orang rimba tidak memasaknya sendiri, akan tetapi tetamu disuguhkan hidangan yang telah dimasakkan Orang desa juga. “Kami takut mereka tidak memakan masakan yang kami buat. Kami bisanya mengundang beberapa orang desa membantu kami untuk memasakan makanan untuk acara hajat kami.”

Perlakuan perlakuan beda ini, sangat dimaklum oleh Orang Rimba dan tidak mempermasalahkannya. Walaupun jauh dilubuk hati yang paling dalam mereka sangat ingin diterima masyarakat lainnya apa adanya tanpa harus dibedakan.

Agak berbeda dengan anak-anak rimba, meski Orang Tua mereka mencoba bergaul dengan masyarakat desa, mereka masih cukup menisolasi diri. Anak-anak orang rimba tidak terlalu dapat menerima ledekan dari anak-anak desa lainnya, apalagi kalau sudah disebut kubu. Akibatnya anak-anak orang rimba sulit bergaul dengan anak-anak orang desa. Dampak buruknya, walau orang rimba sudah menetap dan bergaul dengan Orang desa, akan tetapi perbedaan-perbedaan yang kerap menjadi bahan olok-olokan menyebabkan mereka tidak mau ikut bersekolah.

Hal ini dialami oleh Kelompok Abraham, Pengunang Leman, Paneto, Hasan, Mantap Mbilang, Romado/Botok dan Minus. Peristiwa ini membuktikan bahwa Orang Rimba walaupun sudah berusaha berubah, mencoba bertahan hidup dengan meninggalkan jati diri kerimbaannya tetap saja mengalami pendiskriminasian dari komunitas melayu. Mereka tidak hanya diabaikan secara kebijakan pemerintah tapi juga didiskriminasi oleh suku mayoritas.

* Penulis adalah aktivis lingkungan yang bekerja di WARSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s